Thursday, April 26, 2012




Etika Fotografer

Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.
Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya jarang di bahas, fotografer biasanya lebih tertarik membahas soal kamera, lensa, pencahayaan dan lain lain.
Maksud dari etika versi saya adalah bagaimana cara kita berhubungan antar manusia, antara fotografer dan model, antara fotografer dengan asisten, atau dengan masyarakat lokal. Dengan memiliki etika yang baik, fotografer tentunya diuntungkan dengan mendapatkan foto yang lebih berarti, enak dilihat dan alami. Orang-orang di sekitar kita pun akan lebih senang membantu kita. Terhadap orang lain, antusias dan baik hati. Dalam foto potret, misalnya, terutama bila modelnya wanita, kita menghormatinya dengan tidak menyentuh saat mengarahkan. Menyentuh model wanita sangat tidak sopan terutama di Asia dan membuat model tersebut menjadi tidak nyaman. Selain itu, hindari kebiasaan berbicara dengan nada memerintah  dan sering-seringlah memuji atau berterima kasih bila memang patut.
Saat foto potret, seringkali model kita tidak berpengalaman atau kaku di depan kamera. Hal ini wajar, dan bisa diatasi dengan banyak berkomunikasi dengan mereka. banyaklah bertanya kepada mereka, tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Hindari perbincangan tentang hal-hal negatif seperti perang, dan hindari topik SARA.
Seiring dengan waktu, dengan berkomunikasi dengan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman. Saat berinteraksi dengan mereka, Anda bisa memperhatikan bahasa tubuh mereka, sehingga memiliki ide sudut pandang  dan pose yang terbaik untuk mengambil foto. Hasilnya adalah foto yang lebih alami dan lebih cocok dengan karakter mereka.
Maka dari itu, untuk foto potret, saya lebih menyukai foto sendiri daripada foto bersama kelompok fotografer lainnya. Dengan kehadiran banyak fotografer atau asisten dengan peralatan-peralatan yang rumit, kesempatan untuk berkomunikasi dengan model menjadi hampir tidak ada. Malahan yang terjadi adalah model akan merasa semakin tidak nyaman dan ini akan tercermin pada raut muka dan bahasa tubuh mereka.
“Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar dari segala penjuru, depan, bawah dan samping”.


Bagaimana mendapatkan kritik yang membangun

Kritik ada dua macam, ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Waktu kita baru belajar foto, kritik itu penting, sehingga kita bisa termotifasi untuk menjadi lebih baik, agar kita tahu apa yang kurang dari hasil foto kita. Tapi kritik juga ada yang menghancurkan. Maka dari itu kita harus tahu orang yang mengeritik foto kita itu, orang yang mengerti atau tidak tentang dunia foto, agar kita juga tahu bagaimana hasil foto kita, dari mata orang yang tidak mengerti dunia foto dan dari kata seorang fotografer yg mengerti foto. Agar kita tahu aspek aspek yg salah dari hasil foto kita.
Bila kita suka foto potret fashion, maka meminta pendapat dari wartawan foto (fotojurnalis) tentunya kurang tepat. Fotografer fashion mementingkan keindahan, sedangkan fotojurnalis mementingkan otentisitas.
Bila Anda hobi foto fashion tapi meminta kritik dari seorang fotojurnalis, foto Anda akan disebut tidak alami dan dibuat-buat. Sebaliknya bila Anda suka fotojurnalisme, fashion fotografer akan mengatakan foto Anda seperti foto asal jepret.
Posting foto kita di flickr, facebook, dengan tujuan untuk mendapatkan kritik juga kurang tepat karena khalayak umum tidak tau menahu tentang jenis foto atau teknik yang Anda geluti. Seringkali saya malah geli melihat sesama kritikus malah berdebat kusir. Maka dari itu, manfaatkan situs jejaring sosial untuk mendapatkan teman, tapi bukan untuk mendapatkan kritik. Untuk mendapatkan kritik yang membangun, kita perlu persiapkan diri dan mencari kritikus yang sesuai.

No comments:

Post a Comment